Minggu, 10 April 2016

Kurcaci Cantik milik Indonesia part 10

Kurcaci Cantik milik Indonesia part 10
Karya Ema Widiya


Pernikahan Aldo dan Gita
“Ma, mana jepit rambut yang kemarin aku beli?” tanya Jenny
“Kan kamu taruh di meja hias sayang”
“Duh mana sih” Jenny mencari jepit rambut untuk ia pakai menghiasi rambutnya yang tergerai panjang
“Ketemu!!” ujar nya lalu melihat pantulan dirinya dari kaca
Dress batik selutut membalut di tubuh mungil Jenny, gelang dan cincin perak telah bertengger manis di tangan kirinya. Sepatu heels berwarna cream mempercantik kaki nya ditambah jepit rambut berbentuk daun telah tertaut panjang di rambutnya bagian kanan.
“Udah siap sayang?” tanya mama nya
“Udah ma”
Hari ini Jenny dan keluarga nya akan menghadiri pernikahan Aldo dan Gita di ballroom hotel fave Jakarta. Dena, Calista, Ray, Fadly dan Haris sudah di tempat tujuan. Jenny tak sabar menemui teman-temannya itu dan melihat pasangan pengantin.
Setelah sampai di tempat, Jenny pamit dengan orang tua nya. Ia ingin menemui teman-temannya diiringi Gani di belakang nya. Gani menyeringai lebar sambil melambaikan tangannya kea rah Haris yang sudah bersama yang lainnya.
“Hai kak? Apa kabar ?” Tanya Gani
“Baik dong”
“Eh, udah akrab aja nih. Kapan?” Tanya Calista
“Udah lama kali kak, minggu kemarin kan kak Haris main ke rumah terus sempat basket bareng sama gue” Jelas Gani
“Basket bareng?” tanya Fadly
“Iya Fad, gue insaf dan main basket lagi” Haris terkekeh
“Sejak kapan?” Sambar Ray
“Waaah jangan kaget gitu dong. Udah gih kita ke sana biar deket sama tempet makanan” Ajak Haris
“Lho Jen, ini dress …?” Dena mengingat Dress yang di beli Haris
“Kenapa Den? Cantik ya?” Tanya Jenny
“Cantik kok” Ujar Calista
“Haris!! Jadi Jenny nih mantan lu?” Sambar Dena
“Eh? Mantan?” Haris mengerutkan dahinya
“Itu tuh dressnya di Jenny. Bohong kan lu” Dena mulai menggoda Haris
“Hahaha oh itu Den, iya Jenny mantan gue” Ucap Haris terkekeh
“Apaan sih, gak lucu” Dena hanya manyun menatap Jenny dan Haris
“Kapan kalian jadian?” tanya Dena
“Den, pertanyaan lu itu aneh deh” Jenny mengidikkan bahu nya
Dena berjalan mengikuti yang lainnya lalu mulai mengambil makanan yang ada di atas meja makan., menatap pengantin yang bersanding di pelaminan. Gita mengenakan Gaun putih dan Aldo mengenakan Jas putih, sungguh seperti pangeran dan putrid seperti didongeng.
“Iya Den beneran kayak dongeng” Haris mengangguk setuju
“Bener kan, mereka kayak pangeran sama putri” Dena menatap Gita yang sangat cantik di depan sana
“Iya , nah yang ini ada kurcaci dan pasukannya.”Haris menunjuk Dena, Calista dan Jenny
“Apaan sih lu, ngatain gue mulu” Jenny menyikut Haris sambil memelototinya
“Berantem mulu lu berdua” Ujar Ray
“Diem deh” Haris dan Jenny menyahut serentak
Suasana resepsi pernikahan Gita dan Aldo sama seperti acara Resepsi pernikahan seperti yang lainnya, ada makanan, tamu undangan, dan music yang mengalun merdu. Dan tak lupa ada stage berfoto bagi para tamu undangan. Selesai makan dan berdoa, para tamu bebas ingin berfoto, bernyanyi atau pamit untuk pulang. Jenny memilih pulang bersama keluarga nya yang sudah menunggu di luar lalu ia berpamitan dengan teman-temannya.
Hari itu sangat melelah kan bagi Jenny, tapi ia tak lagi menangis bahkan ia bahagia melihat Aldo dan Gita yang bersanding di pelaminan. Jenny merebahkan tubuhnya di kasur berharap ia bisa istirahat sejenak untuk hari ini.
Jakarta
“Buk, Haris pergi dulu ya?” ucap Haris sambil mengintip ke dapur
“Mau  kemana kamu Ris, bantu ibu dulu sini”
“Basket Buk, Haris udah janji sama Fadly sama Ray”
“Tumben kamu main basket ? dulu aja kamu urak-urakan di kamar”
“Bu, anak ibuk udah balik” Haris merentangkan tangannya
“Nih, taruh ke depan. Nanti siang ibu ada acara arisan di rumah, kamu bantu dulu taruh ini”
“Ya elah si ibuk mah gitu” Meski begitu Haris tetap membantu ibunya
“Le, mana ibu mu? Itu konco ne pada dateng mau arisan kata nya”
Hari minggu di awal bulan adalah kegiatan arisan ibu-ibu di komplek sini, tak heran kalau Haris kali ini harus membantu ibu nya menyiapkan kue dan segala macam makanan.
“Le, bantu ibu mu ambol mangkuk sana” Ujar ayahnya
“Iya Pak , iki lagi di ambilin toh” Haris menyahut dengan logat jawa
“Ini anak cowok, satu-satunya, gede, pinter masak, rajin juga bantuin ibu nya” Puji ibunya agar Haris tetap senang membantu
“Wah ada bakwan nih di balik udang buk” Haris tertawa melihat ibunya yang menyiapkan pempek di piring
“Ndak ada kok Le, kamu habis ini boleh deh main Basket. Nanti ibu aja yang beresin”
“Beneran buk?” tanya Haris
“Iya Haris, ibu nanti kalau udah selesai kan udah gak harus buru-buru lagi”
“Yaudah Haris pergi ya buk” setelah selesai menghidangkan makanan dan minuman, Haris pergi berlalu sambil membawa bola basketnya.
Fadly, Ray dan Gani sudah menunggu Haris di lapangan basket SMA 78 tempat Gani bersekolah, sore hari seperti ini banyak yang berlatih basket dan Gani mengajak teman-temannya untuk ikut berlatih bersama Haris yang notabane nya dulu kapten tim basket dan juga sempat ikut tim IBL.
Latihan sore itu tidak kalah seru dari pada melihat latihan para tim IBL, Haris malah mengadakan tanding untuk tim fadly dan Ray. Ia berusaha membuat suasana disana benar-benar hidup. Seusai latihan, Haris langsung pulang dan mandi. Ia memasuki ruang makan dan menemukan tumpukan pempek dan tekwan disana.
“Buk, gak habis?” tanya Haris
“Nggak, tadi juga udah ibu bungkusin untuk tetangga. Ibu kebanyakan bikin” Gumam ibunya
“Haris bawa boleh buk?” tanya Haris sambil menyiapkan tapperware berukuran sedang dan botol sedang
“Kemana toh Le, baru pulang mau pergi lagi?” Tanya ayahnya yang sedang menyantap pempek
“Mau ke rumah temen pak, Haris mau kasih ini pempek sama mereka” Ujar Haris
“Yasudah, jangan kemaleman pulangnya ya Le?”
“Siap pak, gak bakal kemaleman deh” haris menyambar kunci mobilnya dan segera meluncur ke tujuannya
Haris menenteng tas berisi Tapperware dan sebuah botol ukuran sedang. Haris mengetuk pintu didepannya sambil memerkan giginya yang rapi.
“Assalamualaikum”
“Walaikumsalam, siap.. ngapain lu malem-malem gini?” Tanya Jenny
“Siapa Jen?”
“Ini te, aku Haris” Haris menunjukkan sebuah tas
“Apaan Ris? Masuk gih, jangan berdiri aja diluar”
“Minggir dong, gue mau masuk” Ujar Haris sambil menyikut Jenny yang menghadang jalannya
“Wah, ngelunjak nih anak” Jenny memutar bola mata nya
“Ini te, ibuk tadi ada acara arisan terus pempekny masih banyak banget jadi Haris bawa deh ke sini”
“Wah repot-repot banget nih”
“Lho Haris Bawa apaan tuh?” Papanya Jenny langsung melihat kedalam tapperware
“Ini om pempek sesuai pesanan om” Ujar Haris
“Wah wah, Jen tolong siapin teh anget sama pempeknya ya” Jenny hanya mengehela nafas nya melihat tingkah papanya ini
“Kamu bisa main catur kan? Ayo kita tanding diluar” Haris mengangguk dan bersemangat untuk bermain catur.
Sembari mereka bermain catur, Jenny mengidangkan Pempek, brownies dan juga teh hangat sesuai pesanan papanya. Dilihat dari sisi mana pun kedua lelaki ini terlalu serius menghadapi catur yang ada di depan mereka. Selang beberapa menit, saat Jenny menaruhkan mangkuk kecil, papanya sedikit bereteriak.
“Aduuh, kamu gimana Ris? Katanya bisa main catur. Gini aja gak bisa. Skak” Ucap papanya sambil mengetuk kepala Haris pakai Koran yang ada di tangannya. Membuat Jenny tertawa geli melihat Haris yang pasrah di getok.
“Hahaha maaf om , udah rada lupa mainnya” Haris menggosok kepala nya sambil mengingat-ingat cara bermain catur
“Sudah tiga ronde kamu kalah, kita makan dulu nanti lanjut lagi”
“Siap om” Haris ikut menyantap pempek yang ia bawa tadi
“Jen, besok kamu harus main lah ke rumah Haris, minta resep buat pempek” Ujar ayahnya
“Iya Ris, ajak Jenny main ke sana biar belajar buat Pempek” Mamanya mengangguk setuju
“Ma.. Pa.. apaan sih” jenny mengerutkan dahi nya
“Iya om, insyaallah saya ajak nanti ke rumah ketemu ibuk”
“Nah begitu kan enak, bakalan ada pembuat pempek nanti” Ujar ayahnya
Lama mereka mengobrol sampai Haris akhirnya harus kalah untuk kesekian kalinya dalam pertandingan catur ini, Haris hanya tertawa terbahak-bahak harus di getok beberapa kali oleh papanya Jenny.Sampai akhirnya Haris sadar sudah tiga jam ia disini.
“Om, aku pamit dulu ya. Udah malem nih” haris menyalami tangan kedua orang tua Jenny lalu berpamitan pulang
“Hati-hati Ris, kalau udah jago main catur datang sini ya” papa nya Jenny memegang pundak Haris lalu tertawa keras, Haris hanya mengangguk sambil tertawa mendengar ucapan papa nya Jenny itu.
Jakarta
Hanya tiga sampai empat hari lagi tersisa untuk liburan musim panas, Jenny akhir-akhir ini hanya uring-uringan sambil membaca beberapa novel yang sudah ia beli bersama Dena dan Calista beberapa hari lalu.
“Kak, turun gih” Panggil Gani
“Males ah, ngapain juga?” Sahut Jenny
“Kak Haris udah jemput nih”
“Apaan sih lu aneh- aneh aja. Eh? Haris?” Jenny langsung bangun dari tempat tidurnya dan segera ke ruang tamu, ia bingung kenapa Haris sering sekali datang ke rumahnya.
“Mana ayah lu? “ tanya Haris
“Kerja lah cari sana di KeJaGung” Ujar Jenny
“Apaan tuh?” Haris mengingat-ingat
“Kejaksaan Tinggi Agung” Ujar Jenny
“Ngapain bokap lu disana?”
“Cuci piring, ya kerjalah Harisss!!!” Jenny kali ini melototinya dengan tangan di pinggang
“Yaudah ikut gue yuk?” Ajak Haris
“Kemana?”
“Belajar buat pempek”
“Serius?”
“Buruan gih ganti baju sana cepetan”
Jenny segera berlari ke kamarnya dan mengganti pakaiannya, lalu ia berpamitan dengan Gani yang sibuk bermain game semenjak ujiannya selesai. Jenny dan Haris menuju jalan ke rumah Haris. Hari ini Haris sengaja mengajak Jenny untuk ke rumahnya karena ibunya sedang dapat pesanan pempek dari tetangganya, maka dari itu Haris berinisiatif untuk mengajak Jenny sambil belajar membuat pempek Palembang.
Mereka pun sampai di depan sebuah rumah yang di depannya terdapan lapangan basket berukuran kecil, cukup untuk satu orang, dan di belakang lapangan kecil itu ada sebuah bagasi untuk menaruh kendaraan. Teras depan tampak rapid an bersih, Haris mengetuk pintu lalu seorang wanita paruh baya membukakan pintu tersebut sambil tersenyum.
“Ini temen yang kamu maksud tadi Le?” tanya Ibunya
“Iya Buk, ini Jenny” Haris memperkenalkan Jenny dengan ibunya., dengan sopan Jenny menyalami tangan ibu Haris itu.
“Masuk nak, maaf tangan ibu agak kotor, lagi buat pempek soalnya”
“Oh iya buk gak apa, saya boleh ikut bikin?” tanya Jenny
“Boleh kok, sini ke dapur sama ibu. Haris, kamu bikin minum sana” Perintah ibu nya, Haris yang ingin mengikuti Jenny dan ibu nya langsung terdiam lesu lalu berbalik arah ke dekat kulkas.
Haris tak diizinkan ibunya untuk memasuki dapur, karena Haris sering mengerjai ibu nya ketika memasak. Ada-ada saja ulah Haris jika sudah bersama ibu nya di dapur, terkadang Haris lah yang menjadi penyebab berkurangnya pempek yang baru selesai direbus.
“Jadi Haris bisa masak karena ibu nya emang jago masak ya buk” Jenny memasukkan telor ke dalam adonan pempek yang sudah di tangannya
“Iya, Haris itu orangnya suka penasaran, jadi sekaligus liat ibu masak. Dia juga mau tau gimana cara buat nya. Nah yg itu atas nya di tutup ya nak kalau sudah diisi telur” Ibu Haris menunjuk adonan kecil yang sudah diisi Jenny dengan Telur
“Buk, lama amat. Bosen nih” Ujar Haris
“Iya sabar, bentar lagi mau direbus ini” Jawab Ibu nya
“Lu bikin ribut aja dari tadi kayak Gani aja” Celoteh Jenny yang sudah keluar dari dapur
“waah, gimana ? udah jago?” tanya Haris
“Ya belum lah, baru tau juga ini. Gue mau belajar lagi di rumah ntar” Gumam Jenny
“Haris kamu liatin rebusan pempek nya dulu ya, kalau sudah mendidih angkat yang udah mateng. Ibu mau blender cabe dulu”
“Siap Buk” Sambil mengamati pempek yang mengapung Haris berniat untuk mengajak teman-teman yang lain untuk menikmati makanan khas Palembang itu. Segera ia tekan sebuah nomor yang mencantumkan nama Ray di layar ponselnya.
Sesuai rencana, Pempek yang baru saja matang sudah Haris hidangkan di meja makan depan tempat Jenny menunggunya. Sambil menyeringai geli, Haris berlari membuka pintu untuk menyambut teman-temannya yang datang.
“Eh Jen lu udah duluan aja” sapa Ray
“Lho kok kalian..?”
“Kita mau makan juga kali” sambar Calista
“Wah pada enak-enakan disini ya, gue juga mau dong” Ujar Fadly y6ang disusul dengan Dena.
“Rame ya, duduk dulu sini. Le, ambil gelas sama piring buat makan.”
“Iya Buk” Haris ke dapur untuk menyiapkan segala sesuatunya
Mereka pun makan pempek rebus yang masih hangat itu dengan lahapnya, terutama Ray yang sangat antusias untuk menghabiskan makanan tersebut. Jenny, Dena dan Calista memakan pempek tersebut sambil menbgobrol dengan Ibu nya Haris yang memberikan resep membuat pempek. Setelah selesai bergurau dan membantu membereskan barang yang mereka pakai untuk makan tadi, Mereka pun berpindah ke ruang tamu hanya untuk sekedar mengistirahatkan perut mereka yang kenyang.
“Le, tolong antarkan ini ke rumah ibu tania ya. Bilang pesanannya udahlengkap 100 buah pempek telur, 150 buah pempek lenjer potong nya.”
“Banyak amat buk”
“alhamdulillah rejeki buat kita”
“Eh iya yah buk, yaudah Haris pergi dulu ya buk”
“Eh Ris kita ikutan aja, sekalian pamit dulu nih. Gak enak ntar ibu mau istirahat abis ini” Ujar Fadly yang membantu Haris mengangkat beberapa tapperware berisi pempek itu.
“Yaudah, yuk semuanya kita bantu Haris dulu bentar. Buk kita pamit dulu ya.. assalamualaikum, makasih banyak ya buk” Mereka pun berpamitan pulang lalu membantu Haris mengantarkan pesanan pempek tersebut. Setelah selesai membantu Haris dan kekenyangan sore itu, mereka memilih untuk pulang dan beristirahat sebelum mereka berangkat ke Melbourne lagi.

Melbourne
Semester dua
Setelah selesai menghabiskan liburan musim panas di Melbourne, Boni akhirnya bisa bernafas lega. Berkat kelas tambahan yang ia ikuti, kini ia sudah lancar berbahasa inggris. Boni sudah memesan makanan khas Indonesia yang ia rindukan, selama di Melbourne, Boni hanya bisa memasak Nasi goreng, Mie instan dan telur goreng. Haris, Fadly dan Ray membawakan berbagai jenis makanan untuk Boni yang sudah begitu rindu dengan kampung halamannya.
“Wah dodol, bakpia, pempek, bika ambon” Ujar Boni sambil melihat isi tas khusus makanan yang sengaja di bawa oleh Haris, Ray dan Fadly.
“Udah, simpen dulu sana. Semua buat lu Bon” Ray tersenyum geli melihat tingkah Boni
“Thank you very much ya my best friend” Ucap Boni memamerkan gigi putihnya
“Hahaha udah jadi bule aja lu bon” Goda Fadly
“Hahaha disini gue seneng Fad, bisa belajar Bahasa Inggris sampai ngerti. Sampai-sampai prof. Diana mengenal gue, karena gue banyak tanya” Boni membanggakan dirinya sendiri yang membuat tawa teman-temannya pecah seketika.
Semester ke dua kali ini diisi dengan mata kuliah yang tidak begitu padat, tetapi mereka harus benar-benar fokus karena pada semester terakhir atau ke tiga, mereka harus segera menyusun thesis mereka. Minggu pertama sampai akhirnya bulan ke tiga di saat pertengahan smester mereka harus disibukkan dengan beberapa mata kuliah yang memang kabarnya membutuhkan tenaga ekstra untuk mencerna nya. Sampai akhirnya mereka menemukan akhir pekan di sela-sela mid semester kedua mereka.
“Cepet banget tapi padet banget kegiatan” Gumam Dena
“Iya, rasanya kuliah kali ini lebih cepet,tapi beneran deh diisi sm mata kuliah tambahan, jam ini jam itu bikin gue mumet beneran deh” Gerutu Calista
“Gue butuh refreshing deh, beneran gak bohong gue” Jenny mengacak-acak rambutnya sendiri
“Wah gila nih anak bentar lagi” Gumam Dena sambil mengamati tingkah Jenny
Disisi lain, Fadly, Ray, Haris dan Boni tidak begitu berbeda dengan Dena, Calista dan Jenny yang sedang gusar karena mabuk materi perkuliahan dan jam tambahan yang para professor berikan hampir tiga bulan ini. Mereka juga harus segera mencari judul untuk pembahasan thesis mereka dalam menyelesaikan S2 ini.
Haris berencana ingin mencari bahan thesis mengenai bisnis di dunia medis, ia bahkan sudah menyusun jadwalnya untuk mencari rumah sakit terdekat dengan kampusnya agar mudah melakukan penelitian. Mungkin Haris akan mengajukan Thesis jenis kualitatif,yang latar bekangnya akan fokus pada pertanyaan dan penelitian, akan sedikit waktu liburan yang bisa mereka dapatkan kali ini untuk menyelesaikan pendidikan jenjang magister.

Tunggu kelanjutannya J

Kurcaci cantik milik Indonesia part 9

Kurcaci cantik milik Indonesia part 9
Karya Ema Widiya

Jakarta
Jenny merentangkan tangannya dengan lebar diiringi senyumannya yang tak kuasa ia sembunyikan sendiri, rasa rindunya pada Jakarta dan semua hal yang berhubungan dengan Ibu kota ini. Gani sudah menunggu nya sambil menyeringai menyambut kakak kesayangannya itu, Dena dan Calista yang sudah duluan bertemu keluarga mereka langsung saling berpelukan dan melambaikan tangan.
“Jadi , gimana di Melbourne kak?” Tanya Gani sambil menarik koper milik Jenny
“Cukup mengesankan” Jenny tersenyum mengingat berbagai kisah yang ia alami disana.
“Aaaah mama, papa” Jenny langsung memeluk kedua orang tua nya saat sampai di parkiran.
“Jen, are you okay?” tanya mamanya
“Hm, kaki Jenny sempet keseleo ma. Tapi udah mendingan kok”
“Yaudah yuk masuk, mama udah masakin sup ayam sama pergedel tahu kesukaan kamu”
“Siap bos”
Mereka segera masuk ke mobil dan meluncur keluar dari bandara, melewati jalan tol dan tak lupa untuk menikmati macetnya kota Jakarta. Jenny memeriksa ponselnya untuk mengirimi pesan kepada May dan Hye Mi.
“Hello cingu, iam home”
Tak lama, Hye Mi dan May langsung membalas pesan singkat dari Jenny
“Anyeong cingu, bogoshipo so. Iam home too” – Hye Mi
“Hello Jenn, I’ll miss you so much” – May
 “Sarangheo, see you soon Hye Mi “ –Jenny
“Wo Ai Ni, hehehe see ya May” – Jeny 
Jenny kembali memasukkan ponselnya di saku jaket nya, ia tak sabar ingin memakan masakan mama nya lagi. Sambil menikmati pemandangan gedung tinggi yang ada di kanan kiri jalanan, Jenny tersenyum senang. Ia telah kembali ke kota kelahirannya dan akan menikmati liburan dengan keluarga nya.
“Welcome” Ujar Gani sambil membukakan pintu
“Aaah adik yang baik” Jenny mengacak rambut Gani
“Mana oleh-oleh buat gue?” tanya Gani
“Gue punya nih buat adik kesayangan” Jenny memberikan sebuah harmonika untuk Gani
“Waaah made in Australia” Gumam Gani sambil membuka kotak harmonika
“buat papa sama mama nya mana?” Ujar sang papa
“Ih papa udah tua masih aja” Ujar Jenny sambil menyodorkan sekotak barang antik dengan ukuran kecil yang bisa di pajang, sedangkan mama nya ia berikan sepasang anting-anting yang ia beli di Victoria market.
“Dan, ini dia buat kita satu keluarga” terdapat beberapa macam makanan yang di beli Jenny dan juga 4 buah kaos bertuliskan I Love Melbourne.
“Wah, asyik nih di pake bareng-bareng” Gani mengambil kaos dengan ukuran L
“Aku beres-beres di kamar dulu ya ma, pa” Ucap Jenny
Sambil berkemas barang bawaannya yang tak terlalu banyak, Jenny menyambar ponselnya dan memasukkan nya ke saku celana nya. Segera ia turun ke meja makan yang sudah menghidangkan beberapa macam lauk pauk dan buah buahan segar. Mama nya memang pandai memasak, tak heran Jenny sangat merindukan masakan rumah.
“Kak gimana pengalaman disana? Dari foto-foto lu kayaknya asyik banget” Tanya Gani
“Asyik sih kalau jalan-jalannya, tapi yang rada gak asyik tuh kuliahnya. Pada pinter-pinter bule disana” Jenny mengambil sebungkus kacang atom dari lemari dapur
“Waah, bule nya pasti cantik-cantik ya?”
“Ya lumayan, tapi tetep cantikan kakak kamu” Jenny mengibaskan rambut panjangnya
“Ehh, mulai deh kumat nya.” Gani pergi meninggalkan Jenny di dapur sendirian. Sambil mengunyah kacang atom yang sudah ia ambil, Jenny memikirkan plan kedepan selama liburan. Entah membosankan atau akan menjadi mengasyikkan…
Setelah dua hari membiarkan diri makan, tidur dan membaca buku. Akhirnya sore ini Jenny memutuskan untuk melakukan olahraga, ia berniat untuk jogging di area sport di dekat perumahannya.
“Mau kemana Jenn?” tanya mamanya
“Jogging dulu ma”
“Sendirian? Ajak Gani gih, dari tadi main game melulu dia”
“Gaaaaannniiii lu mau ikut apa gak?” teriak Jenny
“Gaaakk, sana pergi aja sendiri” balas Gani tak kalah keras suara nya
“Tuh kan ma, dia gak mau…”
“Gani, Jenny . teriak-teriak di rumah kayak apaan aja. Sana anterin kakak kamu Gan” Perintah sang mama
“Ma… “ Gani merengek dari kamar nya
“Udah lah ma, biarin Jenny bisa bawa mobil sendiri kok ke sana” Ujar Jenny lalu ia berpamitan untuk menuju area sport dengan mobilnya.
Area sport di perumahan ini selalu ramai, ada yang bermain dengan anak-anaknya sampai ada juga pasangan kakek dan nenek yang berlari bersama sampai membuat seorang jomblo seperti Jenny iri melihatnya.
“Aaah, udah tua aja masih so sweet” Gumam nya.
Jenny berlari dengan santai, balutan baju kaos hitam dan celana training biru serta handuk pink kecil yang ia kaitkan di lehernya membuatnya tampak manis. Rambutnya ia kuncir kuda, saat berlari rambutnya seakan ikut bergoyang ke kanan dan kekiri mengikuti irama kaki.
Di sisi lain jalanan di luar perumahan Jenny, Dena sedang jalan-jalan mencari batik untuk di bawanya ke Melbourne. Sibuk memilih batik, Dena dikagetkan dengan kehadiran seorang cowok dengan tubuh tegapnya dan tubuh tinggi nya yang menjulang. Dena menyilangkan tangannya seraya bertanya.
“Hai Ris? Cari batik juga?” tanya Dena
“Iya nih, kebetulan banget ya?”
“Iya, sendirian Ris?”
“Hmm, menurut lu?” Haris tersenyum sambil melihat ke sebelah kanan kiri nya
“Hahaha, yap. Lu sendirian seperti kelihatannya” Ujar Dena
“Eh, gue bayar dulu ya?” Haris mengangkat sebuah dress batik selutut lalu menuju kasir
“Haris punya pacar? Buat siapa tuh batik?” gumam Dena yang tak lama kemudian menyusul Haris ke kasir
“Buat pacar Ris?” tanya Dena
“Mantan” Gumamnya
“What? Are you kidding me? Ris, serius?” Dena tak percaya dengan ucapan Haris
“Iya serius Den..”
Hening diantara mereka, Dena sibuk dengan pikiranya yang bingung sendiri. Buat apa Haris beliin baju buat mantan, kan aneh banget. Apa Haris mau ngajak mantannya balikan atau.. entahlah Dena bingung sendiri memikirkan nya.
“Eh, gak sama Calista ama Jenny?” Tanya Haris
“Gak, si Jenn lagi sibuk olahraga sore ini” Ucap Dena
“Ehm, lu tau rumah Jenny dimana?”
“Ya tau lah Ris, kenapa?” tanya Dena
“Gue ada urusan sedikit sama dia, bisa anter gue?”
“Tapi gue bawa mobil, terus gimana?” tanya Dena
“Yaudah, gini aja Den.Gue bakal ikutin mobil lu dari belakang” Dena mengangguk setuju sambil menyebutkan nama perumahan tempat Jenny tinggal. Haris pun mengangguk yang berarti ia mengetahui perumahan tersebut.
Setelah memasuki daerah perumahan yang dituju, Dena dan Haris beriringan menuju rumah Jenny. Lalu akhirnya Dena menghentikan mobilnya dan mengklakson sambil membuka jendela mobilnya.
“Ris, ini rumahnya. Gue mau cabut duluan ya? Mau jemput nyokap kerja” Dena menunjukkan jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 16:34 WIB.
“Yaudah, makasih ya Den” Haris menyahut dan Dena pun memutarkan mobilnya lalu pergi ke kantor ibunya.
“Ini ya” Gumam Haris
Haris memarkirkan mobilnya disamping pagar dinding rumah Jenny, Ia berjalan membuka pagar yang tak tertutup rapat itu. Didorongnya pagar tersebut lalu ia menaiki tiga anak tangga kecil menuju pintu rumah Jenny.
“Assalamualaikum..” Haris mengetuk pintu sebanyak tiga kali
“Walaikumsalam” Gani membuka pintu dengan raut bingung
“Cari siapa ya?” tanya Gani
“Jenny nya ada?” tanya Haris
“Oh, kak Jenn lagi jogging tadi. Tunggu aja kak, biasa nya bentar lagi pulang” Gani mempersilahkan Haris duduk lalu mengambilkan minuman dari dapur
“Diminum kak” Gani duduk di ruang tamu menemani Haris
“iya makasih ya..?” Haris mengangkat alisnya sebelah seraya bertanya
“Gani” Ucap gani sambil tersenyum lebar
“Oh iya, Gani, gue Haris” Ucap Haris
“Wah ntar kakak bohong, coba liat KTP nya.” Gani menengadahkan tangannya, ia mengerjai Haris kali ini.
“Waduh, beneran nih?” tanya Haris bingung sambil mengeluarkan dompetnya
“Waah, bener ya nama nya Haris. Kirain tadi becanda” Gani tertawa puas sambil melihat KTP yang ada di dompet Haris.
“Masa’ nama mau gue bohongin juga” jawab Haris sambil meneguk minumannya
“Kakak temen kuliahnya kak Jenn?” Tanya Gani
“Iya, di Melbourne..”
“Waaah, kak disana cewek-ceweknya bening-bening gak? Pada imut-imut gak?” Tanya Gani antusias
“Kayaknya kamu harus ke sana sendiri deh Gan, biar tau” Haris tertawa melihat ekspresi antusias Gani berubah manyun
“Ganiiii, mobil siapa di……” Jenny terdiam di depan pintu melihat Gani yang mengobrol dengan Haris
“Haris?” Tanya Jenny
“Eh kak Jen, udah pulang. Aku tinggal dulu ya kak?” Gani berlalu meninggalkan Jenny dan Haris
“Abis jogging Jen?” tanya Haris
“Iya, lu ngapain? Bisa sampe disini?” Jenny mengerutkan Dahinya
“Udah, mandi sana buruannya gak usah dandan. Ada yang mau gue omongin, Gak lama kok jadi gak usah bawa handphone sama tas segala” Ujar Haris
“Ya udah sepuluh menit deh” Ucap Jenny lalu naik menuju kamar nya
Lebih dari sepuluh menit Haris menunggu Jenny, ia sibuk melihat foto yang terbingkai rapi di dinding ruang tamu. Ada foto Jenny dan Gani saat masih kecil sampai saat Jenny wisuda S1 bersama orangtua nya.
“Eh, ada tamu” sebuah suara lembut memecahkan suasana
“Eh bu,” Haris menyalami tangan mama Jenny
“Temennya Jenny ya?”
“Iya bu,Saya Haris temennya di kampus Melbourne” Ucap Haris tersenyum
“ Tumben banget ada temen cowoknya main ke sini, dulu sih ada yang suka ke sini juga. Nama nya Aldo” Mama Jenny mengingat nama Aldo yang sering ke sini karena urusan organisasi
“Oh, Aldo” Gumam Haris
“Kenal juga sama nak Aldo?”
“Hehe, iya bu. Waktu di Melbourne diajakin Dena buat ke acara pertunangan nya” Ujar Haris meringis
“Si aldo itu pinter ya, kalem orang nya. Minggu depan mau nikah dia, kemarin nganter undangan ke sini”
“Oh, minggu ini bu nikahnya?”tanya Haris
“Ih mama genit deh, temen Jenny diapain sama mama?” Jenny melihat mamanya yang sedang bercakap-cakap dengan Haris
“Mau kemana Jen?” tanya mama nya
“Anu bu,saya mau ngajak Jenny makan bakso di luar bentar aja” Ujar Haris lalu menerima tatapan seorang ibu yang meminta anaknya untuk di jaga baik-baik.
Haris yang sedari tadi berdiri segera berpamitan sengan tuan rumah yang ia kunjungi, Jenny hanya berpakaian santai tanpa ponsel dan tas. Ia mengikuti langkah Haris dari belakang lalu berpamitan dengan mama nya..
“Jangan malem-malem pulangnya ya?” ucap mama nya
“Iya ma, tenang aja. Haris gak bakal ngejahatin aku” Jenny tersenyum jahil pada mama nya.
Haris melajukan mobilnya menuju jalan raya dan entah Jenny tak begitu mengenal tempat tujuan mereka ini, banyak penjual bakso berjajar dan mereka tinggal memilih makanan mana yang ingin mereka beli.
“Lu sering ke sini?” tanya Jenny
“Gak, sering lewat aja” Gumam Haris
“Kirain lu udah pernah makan disini” gerutu Jenny
“Ya ini juga pertama kali nya gue makan disini Jen” Haris memarkirkan mobilnya di dekat gerobak bakso dan mie ayam.
“Yuk turun” Ajak Haris
“Silahkan mas, mbak. Mau pesan apa?” tanya pak penjual.Haris membaca menu yang tertulis di gerobak lalu manggut-mangut menemukan makanan yang akan di pesannya.
“Bakso pangsitnya pak satu, lu apa Jen?” tanya Haris
“Samain aja deh” Ucap Jenny yang sudah duduk manis di kursi yang sudah disediakan
Sambil menyantap semangkuk bakso, Haris menceritakan tujuannya menemui Jenny hari ini. Haris meminta bantuan Jenny untuk menemaninya ke bandung menghadiri pameran lukisan yang Cleo buka di daerah Lembang.
“Gimana Jen? Mau? Gue mau datang dan minta maaf sama Cleo” Ujar Haris
“Boleh juga, sekalian jalan ke Bandung” Ujar Jenny mengangguk setuju
“Yaudah besok lusa gue jemput jam sembilan ya?”
“Berarti masuk bandung jam dua-an. Emang acaranya jam berapa Ris?”
“Abis Ashar setau gue”
“Lu dapet undangannya?” tanya Jenny sambil menyesap es jeruk yang di pesannya
“gak sih, gue liat di sosmed nya, dia posting foto pembukaan pameran lukisan keduanya” ujar Haris
“Bakat nya banyak ya, salut gue” Gumam Jenny
“Iya, jiwa seni di dia bener-bener hidup” Haris mengangguk setuju
“Oke, udah sih itu aja sebenernya” Ucap Haris lalu merogoh sakunya
“Yaudah , pulang yuk udah hampir magrib” Ajak Jenny
“Bentar Jen, lu bawa dompet gak?” tanya Haris
“Ya gak lah, bawa tas juga gak” Ujar Jenny
“Jen, ikut gue yuk. Satu, dua , tiga” Haris menarik tangan Jenny lalu berlari dengan sangat cepat diiringi teriakan penjual bakso tadi
“Woii mas, bayar mas!!!!mas belum di bayar nih” Sang penjual mengejar mereka yang berlari memasuki daerah rusun di dekat sana.
“Gila lu gila ris!!!! “ Teriak Jenny
“So-so-sorry Jen, gue lupa dompet gue ketinggalan di rumah lu kayaknya” Haris menstabilkan nafas nya dan tertunduk lesu sambil tertawa
“Cepet juga ya lari lu” gumam Haris
“Iya, berkat badan gue yang enteng dan kecil ini” ujar Jenny menyipitkan mata nya
“Hahaha iya kurcaci” Haris tertawa geli mendengar ucapan Jenny
“Terus gimana mobil lu? Gimana mau pulang?” tanya Jenny
“Yah bentaran deh kita liatin penjual nya ntar lu tunggu di sebrang sana” Haris menunjuk jalan pintas keluar dari daerah Rusun ini
“Nah, pas banget abang nya lagi cuci piring. Gue bakal ambil mobil terus jemput lu disana” Ujar Haris lalu mengambil langkah seribu untuk mengambil mobilnya.
Tanpa disadari sang penjual, Haris mengendap masuk ke mobilnya. Sang penjual yang tak menyadari itu sibuk menggerutu seakan menyumpahi Haris dan Jenny yang belum membayar bakso nya.
“Wah gilak, tuh abang cerewet banget” ujar Haris sambil membuka jendela mobilnya lalu mengajak Jenny naik ke mobilnya
“Kenapa? Ketahuan?” Jenny tertawa lepas mengingat adegan mereka lari tadi
“Wah, gila baru kali ini gue makan tapi lari. Boleh juga ya dicoba lagi, mau?” Haris menoleh kearah Jenny dan mendapati raut wajah Datar Jenny
“Haariiiiiss!! Gilak, gue gak mau. Lu aja sendiri” Ujar Jenny lalu mereka pun tertawa lepas sambil menirukan upatan-upatan abang tukang bakso tadi.
“Besok deh gue bayar kesana” Ujar Haris
“Kenapa gak malem ini?” tanya Jenny
“Takut gue digorok sama abang nya hahaha” Ujar haris
Tepas seusai Azan magrib mereka sampai di rumah Jenny, Haris langsung berpamitan pulang setelah Jenny memberikan Dompetnya yang tertinggal di atas meja ruang tamu, Haris lalu ingat kenapa dompetnya bisa tinggal. Karena ulah Gani yang ingin melihat KTP nya tadi.
“Salam deh buat Gani” Ujar Haris sambil tersenyum Lebar
“Eh? Yaudah iya” Jenny melambaikan tangan lalu masuk ke dalam rumahnya. Segera ia mengambil wudhu dan shalat. Sambil tersenyum, Jenny benar-benar tak menyangka pengalaman makan bakso akan jadi seseru ini bersama Haris.

Bandung
Haris dan Jenny sedang dalam perjalanan ke bandung, kali ini perjalanan mereka memakan waktu kurang-lebih empat jam. Untungnya bukan hari libur, bisa saja mereka terkena macet yang panjang. Jenny sibuk mengutak atik handphone nya melihat notifikasi di berbagai sosial media nya. Ada beberapa foto mereka di Melbourne sudah di posting oleh Calista dengan caption yang panjang. Jenny hanya tersenyum menatap foto itu.
“Yakin Ris, kali ini bakalan kuat nemuin Cleo?” tanya Jenny
“Yah, setelah merenung beberapa hari. Gue yakin gue sanggup nemuin dia secara jantan banget Jen.. gue juga udah bawa hadiah buat dia” Haris mengambil handbag yang berisi dress batik yang ia beli belum lama ini.
“Good luck, tapi inget ya Ris. Kalau Cleo masih aja marah sama lu, lu terima aja. Gak ada yang salah, mungkin Cleo Cuma bisa nyalahin lu.” Ujar Jenny
“Iya Jen, tenang aja. Gue udah jadi Haris seutuhnya nih” Haris menyibakkan rambut nya yang sudah dipoles rapi sambil tersenyum kearah jenny
“Rambut cepak juga pake gaya segala” Ujar Jenny terkikik geli
Selagi menunggu waktu, Jenny dan Haris berhenti di salah satu tempat makan. Haris mengajak Jenny untuk menyantap makan siang kali ini ia sudah memeriksa dompetnya, membuat Jenny tersenyum geli.
“Jadi gimana sama si abang bakso ris?” tanya Jenny
“Ya, gue di nasehatin dan segala macamnya. Akhirnya gue bayar dua kali lipat karena gak enakan sama abang nya” Haris menyeringai geli
“Gilak ya, jangan sampe deh kejadian lagi” Ujar Jenny
“Tenang kali ini gue bawa dompet nya” Haris menunjukkan dompet berwarna coklat miliknya  itu
“Gue juga bawa kali ini” Jenny mengangkat tas tangan miliknya
Keduanya tertawa bersamaan lalu mulai memesan menu makan siang mereka, selagi menunggu waktu Haris banyak menceritakan tentang ia menjadi kapten tim basket dulu. Bagaimana Ray yang selalu mengganggunya dengan gurauan yang akhirnya latihan mereka kacau, bagaimana Fadly yang cool namun perhatian dengan salah satu gadis kampus  namun ia terlambat untuk menyatakan cinta nya. Dan bagaimana Haris yang selalu membalas Ray dengan kejahilannya dan Haris yang selalu berusaha membuat timnya nyaman berada di lapangan selama latihan walau banyak ketidakseriusan.
Haris juga menceritakan dirinya yang sempat terpuruk karena kecelakaan Cleo, Haris menutup diri. Ia mengundurkan diri sebagai kapten tim yang pastinya membuat para anggota nya ngamuk besar, namun Haris tetap menutup diri dan menghabiskan waktunya untuk membaca beberapa buku. Dari sana lah Haris mulai fokus hanya dengan kuliahnya dan dingin dengan teman yang baru ditemuinya, sampai akhirnya ia lupa jika ia sempat mengerjai Jenny di kampus.
“Wah, hidup lu lumayan ruwet” ujar Jenny
“Lumayanlah Jen” Haris mengangkat bahunya sambil tersenyum
Jenny juga menceritakan bagaimana ia bisa bersahabat dengan Dena yang sangat humble dengan semua orang, dan bagaimana Calista yang menjadi pusat perhatian para gadis karena dandanannya. Dan Jenny yang sempat ingin menjauh dari kedua sahabatnya ini, namun Jenny sudah nyaman dengan mereka yang terbuka dan selalu menghiburnya itu. Jenny, Dena dan Calista sempat menjadi bahan pembicaraan para gadis di kelas mereka. Sampai-sampai Dena geram dan tambah menjadi-jadi.
“Dan lu tau apa yang anak-anak bilang tentang gue dan Calista? Gue dan Calista dibilang matre karena Dena terkenal sering jalan-jalan ke luar Negeri. Dena tambah jadi deh dan bahkan Dena yang gak suka pamer itu, di pamerin barang yang baru ia beli dari London dulu” Ujar Jenny tertawa geli
“Terus lu sama Calista?”
“Gue sama Calista ikutin dramanya Dena, kita histeris terus jerit-jerit minta oleh-oleh.alhasil seisi kelas ngeliatin kita gitu, kayak pengen juga dapet oleh-oleh.” Jenny tertawa mengingat kejadian itu
“Wah emang ya pergaulan cewek lebih rumit”Ujar Haris ikut tertawa
“eh Ris, benter lagi nih jam nya” ujar Jenny
“Kita ke musholla terdekat dulu Jen, baru on the way ke tujuan” Ujar Haris sambil membayar makan siang mereka.
Setelahselesai shalat, Haris dan Jenny kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju gallery dimana Cleo membuka pameran lukisannya. Haris memarkirkan mobilnya dan diikuti Jenny yang berjalan di belakang nya. Haris menangkap sosok Cleo yang kini duduk tersenyum di atas kursi roda nya. Haris langsung menghampiri Cleo, Jenny berdiri di belakang Haris dan memberikan senyum nya.
“Hai C,apa kabar?” Sapa Haris
“Ngapain lu kesini?” Raut wajah Cleo berubah 180 derajat
“Gue mau kasih ini, dan juga congratulation ya C buat Gallery ke dua nya” Ujar Haris sambil menyodorkan handbag nya
“Makasih, dan sorry. Rahma, lu bisa balikin ini ke dia?” Cleo memberikan handbag yang ia ambil dari Haris ke temannya
“C, lu gak boleh gitu. Gak enak dilihat tamu lain” Bisik Rahma
“Lu balik deh Ris, sebelum gue bener-bener enek ngeliat lu” Cleo memutar kursi rodanya lalu pergi begitu saja
“Cleo, kecelakaan itu kan bukan salah Haris?” Jenny yang tak tahan melihat Cleo, angkat bicara
“Siapa lu? Tau apa?” Cleo membalikkan badannya dan menatap sinis kearah Jenny
“Tapi gue tau ceritanya C, itu kecelakaan. Dan itu udah hampir dua tahun yang lalu seharusnya lu…”
“Udah Jen, gak apa” Haris memegang lengan Jenny yang berusaha mendekati Cleo
“Oh, jadi dia udah cerita ke lu? Dan kecelakaan? Lu jaga aja pacar lu, biar gak jadi penyebab kecelakaan lagi deh” Cleo benar-benar pergi kali ini. Haris dan Jenny mematung di depan teras ditemani Rahma.
“Sorry banget Ris, gue tau ini juga bukan salah lu dan lu tau kan sifat Cleo yang keras kepala? Satu lagi gue minta maaf ya, gue gak bisa kasih hadiah lu ini ke Cleo” Rahma menyodorkan handbag itu ke Haris.
“it’s okay Ma, gak apa kok. Tolong jagain Cleo terus ya.” Ujar Haris
“Okay, gue bakal jaga Cleo kok.Mau masuk? Lihat pameran, di dalem ada orang tua Cleo juga” ajak Rahma
“Gak usah Ma, gue langsung cabut aja. Takut kemaleman” Ujar Haris
“Yaudah, makasih ya udah dateng” Ujar Rahma
“Eh iya kenalin, ini Jenny”
“Hai, Jenny”
“Hai, gue Rahma. Pacar baru?” tanya Rahma
“Ehh? “Haris maupun Jenny hanya tertawa membalas pertanyaan Rahma
Sore itu Haris langsung melajukan mobilnya untuk kembali ke Jakarta, sesuai perkiraan Jenny. Mereka tiba di rumah tepat jam delapan malam, Haris mengantar Jenny sampai ke depan pintu rumah lalu memberikan handbag miliknya.
“Buat gue?” tanya Jenny
“Yah, masa’ gue yang pakai?” tanya Haris
“hmm, makasih Ris” Jenny mengambil handbag itu, tiba-tiba pintu rumah terbuka begitu saja. Papanya muncul dari dalam tersenyum menyambut putrinya yang baru sampai itu.
“Masuk dulu Ris, kebetulan baru mau makan malam kita” ujar papanya
“Eh, gak usah om. Saya udah makan tadi dijalan”
“Makan roti doang, gih masuk” Ajak Jenny
Mau tak mau Haris mengiyakan ajakan keluarga Jenny itu, setelah selesai menyantap makan malam. Haris ingin berpamitan namun papa Jenny mengajaknya mengobrol di teras rumah sebentar.
“Bener juga, masa’ gue langsung pulang” gumam Haris lalu mengikuti langkah papa nya Jenny ke luar
“Jadi, kamu ini asli mana ris?” tanya papanya Jenny
“Kalau saya ya lahir nya di Jakarta om, tapi ibu saya aseli Palembang dan ayah aseli Yogyakarta” Ujar Haris
“Wah, pinter buat empek-empek ibu mu ya?”
“Alhamdulillah iya om” Haris menyeringai geli
“kapan-kapan bawa lah empek-empek ke sini sekalian ajarkan Jenny buat nya” Haris mengangguk sambil tersenyum geli mendengarnya
“Papa udah nodong Haris aja” gerutu Jenny dari balik pintu
“Hahaha, gak apa-apa kali Jen. Sekalian ntar lu cicipin juga masakan nyokap gue” ujar Haris
“Yaudah om, saya pulang dulu ya. Udah malem nih udah hampir jam sepuluh” Haris menyalami tangan papa nya Jenny lalu berpamitan dengan Gani dan juga mamanya.
“Kak, di tunggu lho empek-empeknya” Gani sedikit berteriak
“Tenang aja Gan, pasti kakak Bawain deh” Haris menghidupkan mesin mobilnya dan meluncur kearah rumah nya.
Kini Haris sudah bisa menerima kemarahan Cleo dengan hati yang sabar dan seenggaknya Haris sudah ikhlas, lagi pula Rahma telah menjelaskan kepada Haris bahwa Cleo sebenarnya telah memaafkan Haris hanya saja gengsinya masih terlalu besar untuk mengakui itu semua.
Setidaknya hari ini Haris sudah lega dan lumayan kenyang dengan suguhan makan malam masakan mama nya Jenny yang enak itu. Haris ingin cepat-cepat kembali ke rumah dan mengajak ibu nya untuk membuat empek-empek yang sangat enak.

Tunggu kelanjutannya J